Inforial Hotspot atau titik panas menjadi data yang sangat penting dalam pemantauan kejadian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Hal itu dikarenakan lokasi yang terpantau hotspot bisa jadi merupakan lokasi terjadinya Karhutla.


“Lokasi hotspot menjadi prioritas penanganan kejadian Karhutla. Karena itu, setelah terpantau hotspot, harus segera ditindaklanjuti dengan groundcheck dan tindakan penanggulangan secepatnya jika terjadi kebakaran hutan atau lahan,” ujar Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya.


Hasil pengecekan Manggala Agni Daops Banyuasin di salah satu lokasi hotspot di Desa Rantau Harapan Dusun I, Kecamatan Rantau Bayur, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, pada 27 Agustus 2017, terdapat areal bekas terbakar seluas lima hektare. 


Masih di provinsi yang sama, lahan bekas terbakar juga ditemukan Manggala Agni Daops Lahat di Desa Bintuhan seluas dua hektare dan satu hektare lainnya di Desa Tanjung Raja, Kabupaten Lahat.


Upaya pemadaman juga terus dilakukan Manggala Agni Daops Singkawang, Kalimantan Barat, terhadap lahan gambut seluas 3,5 hektare yang terletak di Kelurahan Roban, Kota Singkawang, pada hari yang sama. 


Sedangkan di Kalimantan Selatan, Daops I Tanah Laut, melakukan pemadaman pada dua lokasi yang luasnya sekitar 10 hektare dan 20 hektare. Di Kalimantan Tengah, pemadaman dilakukan Daops Palangkaraya di Kalampangan Perbatasan Bereng Bengkel, Kota Palangkaraya, pada lahan seluas sekitar 1,5 hektare. 


Sampai saat ini, jumlah hotspot cenderung menurun dibanding tahun lalu dalam periode yang sama. Menurut Siti, hal ini tidak terlepas dari dukungan kerja keras Tim Terpadu Manggala Agni bersama masyarakat serta sinergitas satuan tugas Karhutla dalam kecepatan melakukan pencegahan dan penanggulangan Karhutla di lapangan.


INFORIAL